Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Soal Literasi Teks Sastra Fase D (Kelas 7 dan 8 SMP) + Kunci Jawaban


Detail Kompetensi
Bangun Geometri
  • Mengidentifikasi kata kunci yang efektif untuk menemukan sumber informasi yang relevan pada teks sastra atau teks informasi yang terus meningkat sesuai jenjangnya (1 soal)
  • Menganalisis perubahan pada elemen intrinsik (kejadian/karakter/setting/konflik/alur cerita) pada teks sastra yang terus meningkat sesuai jenjangnya (3 soal)
  • Menyimpulkan perasaan dan sifat tokoh serta elemen intrinsik lain seperti latar cerita, kejadian-kejadian dalam cerita berdasarkan informasi rinci di dalam teks sastra yang terus meningkat sesuai jenjangnya (1 soal)
  • Membandingkan hal-hal utama (misalnya karakter tokoh atau elemen intrinsik lain) dalam teks sastra yang terus meningkat sesuai jenjangnya (2 soal)
  • Menilai kesesuaian pemilihan warna, tata letak, dan pendukung visual lain (grafik, tabel dll) dalam menyampaikan pesan/topik tertentu dalam teks sastra atau teks informasi yang terus meningkat sesuai jenjangnya (2 soal)
  • Merefleksi pengetahuan baru yang diperoleh dari teks sastra atau teks informasi terhadap pengetahuan yang dimilikinya yang terus meningkat sesuai jenjangnya (1 soal)
  • Menemukan informasi tersurat (siapa, kapan, di mana, mengapa, bagaimana) pada teks sastra atau teks informasi yang terus meningkat sesuai jenjangnya (2 soal)

Soal Literasi Teks Sastra Fase D


Wacana 1: Aku Ingin Sekolah: Kisah Anak Suku Sakai

“Abang bacalah!” anak kecil itu membusungkan dadanya. Namanya tertulis di bajunya. “Abang belum bisa membaca,” jawab Langai malu. Ia melihat huruf kecil-kecil di baju anak itu. Lijal pun hanya bisa terdiam. 

“Abang kan sudah besar!” suara anak kecil itu meninggi, ia merasa keheranan. Sudah besar belum bisa membaca! Gumamnya terdengar oleh Langai. Langai menundukkan kepala ketika dilihatnya Bu Fatimah memandang ke arah mereka. Begitu juga dengan Lijal 

“Ada apa, Salim?” Bu Guru itu menghampiri mereka. Oh, anak kecil ini ternyata bernama Salim! Langai membatin. Ia menundukkan kepala ketika Bu Guru semakin mendekat. 

“Bu, abang ini belum pandai membaca. Dia kan sudah besar,” Salim berbisik, tetapi tetap kedengaran.

 Bu Guru tersenyum, “Abang ini hebat, Salim!” Salim melongo. Bu Guru kembali ke depan kelas.

 “Anak-anak, ibu bangga pada Abang Langai dan juga Abang Lijal. Semangat mereka untuk bisa bersekolah sangat tinggi. Orang tua Bang Langai dan Bang Lijal masih tinggal di dalam hutan. Jauh dari desa kita. Abang Langai dan Abang Lijal berasal dari Suku Sakai, yakni suku asli yang hidup di pedalaman hutan-hutan di Riau. Mereka harus berjalan kaki beberapa jam melewati hutan dan melalui semak belukar untuk sampai ke sekolah.” Bu Guru tersenyum pada murid-muridnya sambil memandang berkeliling. Semua diam mendengarkan Bu Guru. Mereka, anak-anak suku Sakai yang sudah bermukim. 

“Meskipun harus mulai dari kelas satu dan sekelas dengan anak-anak sebaya kalian, Abang Langai dan Abang Lijal tetap ingin belajar!” sambung Bu Guru dengan suara lantang. 

Anak-anak kecil itu menoleh ke arah Langai dan Lijal. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan. Tepukan itu disusul oleh seisi kelas, termasuk Bu Fatimah. Suasana kelas menjadi riuh. Setelah suasana kembali reda, Bu Fatimah mulai mengajar. Langai mengikuti di dalam hati. Ia belum berani bersuara. Selanjutnya, Bu Fatimah mengajari menulis. Langai dan Lijal diberi pensil dan buku. Langai merasa jari-jarinya kaku ketika memegang pensil. Ini kali pertama ia memegang pensil. Diperhatikannya cara Salim memegang pensil. Lalu, ia mulai meniru. Mula-mula ia agak kesulitan juga, tetapi akhirnya ia mulai terbiasa. Ia mulai menulis apa yang ditulis Bu Fatimah di papan tulis. Langai merasa asyik memainkan pensil di tangannya. Tiba-tiba terdengar suara dentang besi dipukul beberapa kali, pertanda waktu istirahat. Anak-anak berlarian keluar, termasuk Salim. 

Langai duduk sendiri sambil terus menulis. Lijal mendekati abangnya. Wajahnya tampak cerah. Bu Fatimah mendekati mereka. Ia tersenyum melihat Langai yang sangat bersemangat berlatih menulis.

“Pukul berapa kalian berangkat dari hutan tadi pagi?” tanya Bu Fatimah. “Saya tidak tahu, Bu,” jawab Langai, “hari masih gelap ketika kami berangkat dari rumah. Bu Fatimah tersenyum kecut. Ia tahu Langai dan Lijal menempuh perjalanan yang cukup jauh. Wajah mereka terlihat lelah, tetapi semangatnya mengalahkan kelelahan itu. 

“Bagaimana jika kalian tinggal di rumah Ibu?” Bu Fatimah memandang Langai dengan saksama, “Ibu juga memunyai seorang anak laki-laki, sebaya dengan Lijal. Ia sudah duduk di kelas 4.”

Soal No.1
 Mengapa Bu Fatimah bangga terhadap Langai dan Lijal? Berilah tanda centang (√) pada setiap pernyataan yang benar!

A. Semangat Langai dan Lijal untuk bisa bersekolah sangat tinggi.

B. Langai dan Lijal pandai dalam pelajaran di sekolah.

C. Sikap Langai dan Lijal yang sangat ramah kepada teman-teman

D. Perjuangan Langai dan Lijal untuk dapat berangkat ke sekolah
Pernyataan Benar   Salah  
Semangat Langai dan Lijal untuk bisa bersekolah sangat tinggi.
Langai dan Lijal pandai dalam pelajaran di sekolah        
Sikap Langai dan Lijal yang sangat ramah kepada teman-teman        ✓
Perjuangan Langai dan Lijal untuk dapat berangkat ke sekolah         



Soal No.2
Jika kamu ingin mencari informasi lebih mengenai kisah tersebut, kata kunci apa yang kamu ketikan pada laman internet?
A. Suku Sakai pedalaman
B. Perjuangan suku Sakai
C. Sekolah anak suku Sakai
D. Sejarah suku Sakai

C. Sekolah anak suku Sakai

Soal No.3
Walaupun sudah besar, Langai belajar bersama anak kelas satu. Ketika ada anak yang meminta Langai membaca tulisan, ternyata Langlai belum bisa membaca. Apa yang terjadi pada Langai setelah peristiwa itu?
A. Benar B. Salah
1 Langai membaca dengan menunduk karena malu ketika belajar. 

2 Langai malu, tetapi memiliki semangat tinggi untuk menulis dan menyimak penjelasan guru

3 Langai percaya diri terhadap kemampuannya karena ia yakin bisa

Pernyataan Benar   Salah  
Langai membaca dengan menunduk karena malu ketika belajar.
Langai malu, tetapi memiliki semangat tinggi untuk menulis dan menyimak penjelasan guru        
Langai percaya diri terhadap kemampuannya karena ia yakin bisa          



Soal No.4
Salim mengatakan bahwa Langai belum pandai membaca padahal sudah besar. Namun, Bu Fatimah justru memberikan pujian kepada Langai. Bagaimana perasaan Langai pada saat itu? Berilah tanda centang (√) pada setiap pernyataan yang benar!

A. Langai merasa bangga terhadap dirinya sendiri.

B. Langai merasa kepercayaan dirinya muncul pada saat itu

C. Langai merasa canggung sekelas dengan anak-anak kecil

D. Langai merasa bahagia dan menyimak penjelasan Bu Fatimah dengan saksama
Pernyataan Benar   Salah  
Langai merasa bangga terhadap dirinya sendiri.
Langai merasa kepercayaan dirinya muncul pada saat itu        
Langai merasa canggung sekelas dengan anak-anak kecil       ✓
Langai merasa bahagia dan menyimak penjelasan Bu Fatimah dengan saksama         




Soal No.5
Terdapat perbedaan kejadian yang dialami tokoh pada cerita tersebut. Pilihlah pernyataan-pernyataan berikut yang menggambarkan perbedaan kejadian yang dialami tokoh dalam cerita tersebut! Berilah tanda centang (√) pada setiap pernyataan yang benar!

A. Langai dan Lijal awalnya sangat malas belajar, tetapi di akhir cerita mereka menjadi rajin belajar berkat dukungan Salim

B. Awalnya Salim mengejek Langai dan Lijal, tetapi akhirnya cerita Salim meminta maaf kepada mereka

C. Langai dan Lijal awalnya tidak percaya diri, tetapi akhirnya mereka dapat lebih percaya diri berkat Ibu Fatimah

D. Anak-anak awalnya memandang Langai dan Lijal sebelah mata, tetapi akhirnya mereka ikut bangga dengan perjuangan Langai dan Lijal bersekolah
Pernyataan Benar   Salah  
Langai dan Lijal awalnya sangat malas belajar, tetapi di akhir cerita mereka menjadi rajin belajar berkat dukungan Salim
Awalnya Salim mengejek Langai dan Lijal, tetapi akhirnya cerita Salim meminta maaf kepada mereka        
Langai dan Lijal awalnya tidak percaya diri, tetapi akhirnya mereka dapat lebih percaya diri berkat Ibu Fatimah     ✓  
Anak-anak awalnya memandang Langai dan Lijal sebelah mata, tetapi akhirnya mereka ikut bangga dengan perjuangan Langai dan Lijal bersekolah         



Wacana 2: Legong Kuntul
Setiap pagi Dewi selalu memandang burung kuntul (burung bangau) yang hinggap di pepohonan di sepanjang jalan desa. Kuntul yang berwarna putih itu bergerak anggun. Dewi menghela napas. Dia berharap gerak tarinya dapat seanggun itu. Tapi masih ada saja yang salah. Dewi kesal saat mengingatnya. 

Waktu untuk belajar tak banyak lagi. Minggu depan, dia akan pentas Tari Legong Kuntul. Mungkin aku belum siap, pikir Dewi. Dipandangnya burung kuntul yang bersiap untuk terbang. Itu artinya dia juga harus segera datang ke tempat latihan.

Alunan Gamelan Semar Pagulingan mulai terdengar. Saatnya mulai berlatih. Dewi gugup sehingga tangannya agak gemetar. Dewi semakin kecil hati, ketiga temannya bergerak luwes dengan kipas mereka. Tangan Dewi masih kaku saat menggerakkan kipasnya. Sejenak terpikir olehnya untuk berhenti saja. Mungkin dia tak perlu ikut pentas tari kali ini.

Tapi, bagaimana dengan teman-temannya? Tak mungkin mereka pentas bertiga. Tarian ini penarinya selalu berjumlah genap. Dewi semakin merasa galau. Saat pulang latihan, Dewi melihat burung kuntul yang tetap indah menghiasi pepohonan di desanya. Burung kuntul itu sudah ada di sana sejak dahulu.

Sore itu di kamarnya, Dewi memikirkan burung kuntul yang tetap bertahan dan menjadi bagian dari desanya. Bahkan, ibunya berkata, kokokan (burung kuntul) itu turut menjaga sawah dan ladang mereka. Mereka sudah menjadi bagian kehidupan di desa mereka, Desa Petulu di Ubud. Tari Legong Kuntul adalah gambaran persahabatan warga desa dengan kokokan.

Dewi menghela napas. Dia juga ingin menjadi bagian dari desanya. Dia akan menjadi bagian dari pentas Tari Legong Kuntul. Dewi mulai bersemangat. Tak lama terdengar gumamannya menirukan suara gamelan. Tangannya mulai bergerak. Mula-mula perlahan, namun semakin lama semakin yakin. Tangannya mulai terlihat gemulai. Menambah latihan di rumah ternyata adalah ide yang bagus. Dewi tersenyum.

Soal No.6
Mengapa masyarakat Desa Petulu menggemari Tari Legong Kuntul?

Masyarakat Desa Petulu menganggap burung kuntul merupakan bagian dari kehidupan mereka. Tari legong kuntul merupakan lambang persabahatan antara masyarakat Desa Petulu dengan burung kuntul (kokokan) 

 

Soal No.7
Pernyataan berikut ada yang sesuai dengan isi teks dan ada yang tidak sesuai dengan isi teks. Berilah tanda centang (√) pada kolom Benar atau Salah untuk setiap pernyataan!
A. Benar B. Salah
1 Sempat terlintas di pikiran Dewi untuk tidak ikut pentas karena gerakannya tidak seluwes burung kuntul.

2 Dewi ingin menjadi bagian dari desanya dengan ikut menjadi penari Tari Legong Kuntul

3 Tari Legong Kuntul harus dibawakan oleh empat orang wanita

Pernyataan Benar   Salah  
Sempat terlintas di pikiran Dewi untuk tidak ikut pentas karena gerakannya tidak seluwes burung kuntul.
Dewi ingin menjadi bagian dari desanya dengan ikut menjadi penari Tari Legong Kuntul        
Tari Legong Kuntul harus dibawakan oleh empat orang wanita    
    




Soal No.8
Ada yang beraanggapan gambar yang ada kurang mendukung isi cerita. Jika kamu diminta untuk menambah gambar supaya lebih memfaktualkan isi cerita maka yang akan kamu tambahkan adalah ...
A. Dewi yang sedang latihan dengan wajah panik dan gelisah.

B. Burung-burung kuntul yang sedang terbang mengitari seluruh desa.

C. Jalan desa yang penuh pepohonan dan banyak burung kuntul yang hinggap.

D. Dewi yang menari dengan latar bayang burung kuntul yang mengepakkan sayap
Pernyataan Benar   Salah  
Dewi yang sedang latihan dengan wajah panik dan gelisah.
Burung-burung kuntul yang sedang terbang mengitari seluruh desa.        
Jalan desa yang penuh pepohonan dan banyak burung kuntul yang hinggap.    ✓   
Dewi yang menari dengan latar bayang burung kuntul yang mengepakkan sayap         


Wacana 3: Anggrek Hitam

“Anggrek hitam cuma ada di pedalaman, seperti Semenanjung Malaya, Kalimantan, dan Sumatra,” cerita Taras, “sekarang jadi maskot flora Kalimantan Timur.” 

“Bunganya berwarna hitam?” tanya Ota. 

Taras tertawa. “Mari kita lihat!” Taras mencari-cari di internet. Ota, Kiria, dan Luna mengerumuni laptop Taras. 

“Nama ilmiahnya Coelogyne pandurata. Di Kalimantan Timur disebut Kersik luwai. Anggrek hitam punya umbi semu oval berwarna hijau. Ada 2 helai daun yang keluar dari pucuk umbi semu. Bunganya harum, dengan diameter sekitar 10 sentimeter, bisa bertahan 5-6 hari. Bunga berwarna hijau muda dengan kelopak lancip, bibir berbentuk biola bergelambir 3 berwarna hitam. Bagian sisinya bergelombang kecil, bagian tengahnya ada tebaran bintik-bintik hitam. Biasanya berbunga sekitar April-Juli.

” Anak-anak yang tergabung dalam Geng LOTRIA itu membicarakan kasus baru, yaitu hilangnya anggrek hitam milik Bu Silvia, tetangga Taras. Anggrek-anggrek itu kenangan waktu menjadi dokter di pedalaman Kalimantan. 

“Sementara ini Bu Silvia mencurigai Pak Hamid, Bu Nanet, dan Kak Ramon,” kata Taras. 

Keempat anak itu lalu bersepeda menuju rumah Bu Silvia. Mereka mencari Pak Hamid, tukang kebun Bu Silvia. 

“Sorenya, saya memuji beberapa bunganya yang mekar. Eh, paginya hilang,” cerita Pak Hamid. Tetapi, malam itu Pak Hamid menunggui ibunya di rumah sakit, jadi tak mungkin mencuri anggrek. 

Penyelidikan dialihkan kepada Bu Nanet, pemilik biro wisata yang rumahnya beberapa blok dari rumah Bu Silvia. Dia juga penggemar anggrek dan tahu bahwa Bu Silvia punya anggrek hitam. Bu Nanet sedang menyiram koleksi tanamannya. 

“Hei, anggrek hitam!” teriak Ota. 

Sayang, sepertinya Bu Nanet bukan pencurinya. Dia membeli anggrek hitamnya di Balikpapan saat mengantar turis. Ada potongan tiket masuk tempat wisata di Balikpapan.

Kak Ramon sangat cuek dan tidak suka ditanyai. Dia bercerita kalau saat kejadian, dia pulang malam dan langsung tidur sampai siang. 

“Aku masih mencurigai Bu Nanet. Kenapa dia membeli anggrek baru saat Bu Silvia kehilangan anggrek? Apakah itu tidak terlalu kebetulan?” tanya Luna. 

“Tapi, aku melihat tanggal yang tertera di tiket itu,” bantah Kiria. 

“Itu!” seru Taras. “Bu Nanet punya biro perjalanan. Mudah baginya untuk mendapat tiket wisata. Selain itu, mengingat keberadaannya yang semakin langka, aku tidak yakin apakah bisa membawa anggrek hitam lewat pesawat.”

 Bu Nanet tak bisa mengelak ketika Bu Silvia mengenali anggrek-anggrek hitam koleksinya. Sebagai tanda terima kasih buat Geng LOTRIA, Bu Silvia menghadiahkan salah satu anggrek hitam kesayangannya. “

Terima kasih. Kami akan menaruhnya di markas rumah pohon sebagai lambang kesuksesan,” sambut Luna dengan wajah berseri-seri. 

Disadur oleh Veronica Widyastuti

Soal No.9
Setelah menemukan kesulitan dalam mencari bukti-bukti dari Pak Hamid, Bu Nanet, dan Kak Ramon, bagaimana Geng Lotria dapat menemukan titik terang tentang orang yang dicurigai dalam kasus tersebut?
A. Taras menyampaikan bahwa tidak mudah membawa bunga langka ke dalam pesawat.
 
B. Taras berhasil mengumpulkan hasil rekaman CCTV saat kejadian di rumah Bu Silvia.

C. Kiria mengatakan tentang Bu Nanet yang memiliki biro perjalanan ke luar negeri.

D. Luna menunjukkan tiket Bu Nanet saat membeli anggrek hitam di luar negeri.

A. Taras menyampaikan bahwa tidak mudah membawa bunga langka ke dalam pesawat

Soal No.10
Berikut adalah pernyataan mengenai karakter tokoh dalam teks cerpen Anggrek Hitam. Tentukan benar atau salah pernyataan tersebut berdasarkan isi teks cerita!
A. Benar B. Salah
1 Pak Hamid adalah seorang tukang kebun yang sering membolos.

2 Taras adalah anggota Geng LOTRIA yang kritis dan cerdas.

3 Selain memiliki naluri yang tajam, Bu Silvia juga cukup tegas

4 Bu Nanet dengan jujur mengakui semua kesalahan yang telah dilakukannya

Pernyataan Benar   Salah  
Pak Hamid adalah seorang tukang kebun yang sering membolos.  
Taras adalah anggota Geng LOTRIA yang kritis dan cerdas.         
Selain memiliki naluri yang tajam, Bu Silvia juga cukup tegas         
Bu Nanet dengan jujur mengakui semua kesalahan yang telah dilakukannya    
    



Soal No.11
Pilihlah beberapa pernyataan yang tepat dalam menyampaikan kesesuaian antara ilustrasi dan isi cerita tersebut! Berilah tanda centang (√) pada setiap pernyataan yang benar
A. Gambar bunga dalam ilustrasi sesuai isi karena mendeskripsikan ciri-ciri anggrek hitam.

B. Ilustrasi sesuai dengan isi cerita karena anggota Geng LOTRIA terdiri atas 5 anak saja.

C. Posisi para tokoh yang mengerumuni laptop dalam ilustrasi sesuai dengan peristiwa dalam cerita

D. Gambar salah seorang anggota Geng LOTRIA sedang menjelaskan tidak sesuai dengan isi cerita.
Pernyataan Benar   Salah  
Gambar bunga dalam ilustrasi sesuai isi karena mendeskripsikan ciri-ciri anggrek hitam.
Ilustrasi sesuai dengan isi cerita karena anggota Geng LOTRIA terdiri atas 5 anak saja.         
Posisi para tokoh yang mengerumuni laptop dalam ilustrasi sesuai dengan peristiwa dalam cerita    ✓   
Gambar salah seorang anggota Geng LOTRIA sedang menjelaskan tidak sesuai dengan isi cerita.         



Soal No.12
Bu Nanet tak dapat mengelak dari semua kecurigaan karena Bu Silvia mengenali anggrek-anggrek hitam koleksinya. Berdasarkan peristiwa tersebut, sebutkan hal-hal positif yang dapat kamu terapkan dalam kehidupanmu!

Nilai moral atau pesan moral dari peristiwa tersebut adalah supaya kita menjadi manusia yang jujur, tidak mengambil yang bukan menjadi hak kita, dan selalu memahami hak orang lain