Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sekilas Tentang Sistem Pendidikan Indonesia

Sistem Pendidikan yang berkualitas mampu menghasilkan sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi dan unggul. Pemerataan pembangunan di segala sektor merupakan dampak penyerta apabila SDM sudah unggul. 

Tingkat kemiskinan juga akan menjadi rendah. Mayoritas masyarakat memiliki pekerjaan yang mampu mensejahterakan diri sendiri beserta keluarganya.

Negara-negara di berbagai belahan dunia saling berlomba meningkatkan kualitas pendidikan. Mereka sadar betul betapa pentingnya pendidikan dalam keberlangsungan hidup. Penelitian tentang pendidikan terus dilakukan di semua jenjang. Inovasi pun mulai bermunculan silih berganti. 

Apakah Indonesia termasuk negara yang berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikannya?

Siswa membaca buku

Tentu saja, segala hal terus diupayakan pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan. Tidak main-main dana APBN sebesar 20% selalu dialokasikan untuk pendidikan di Indonesia. Namun sayangnya besaran dana yang dikeluarkan belum sebanding dengan peningkatan kualitas pendidikan.

Apa yang salah dengan sistem pendidikan di Indonesia?

Opini penulis, pendidikan di negara kita tercinta terlalu mengedepankan nilai akademik. Orang tua juga menganggap anak yang mendapatkan nilai yang tinggi adalah yang terbaik. Jika anak memperoleh nilai yang rendah dianggap tidak pintar.

Pendidikan kita menjadikan setiap anak menjadi sama, dibentuk sesuai dengan yang diharapkan oleh guru. Mereka harus mampu mengusai segala bidang ilmu pengetahuan yang diajarkan di sekolah. Banyak robot-robot penghafal yang tercipta. Pintar berteori, lemah dalam pelaksanaannya. Setiap anak padahal unik. Mereka dilahirkan dengan keadaan yang berbeda-beda. Mempunyai minat maupun bakat yang tidak sama.

Sayangnya, pendidikan yang malah menghilangkan kreatifitas dan ciri khas anak. Bahkan masih ada guru yang bersikap otoriter terhadap muridnya. Tidak menerima kritik sama sekali, selalu merasa benar. Pengetahuan mengalami perubahan dari waktu ke waktu, sehingga kita harus selalu fleksibel dengan dinamisnya ilmu pengetahuan

Misalnya saja materi tentang tata surya dan planet-planet. Dulu Pluto dianggap sebagai salah satu planet dalam keluarga tata surya. Seiring semakin canggihnya teknologi, maka para ilmuan mencoba mengamati lagi posisi Pluto. Benda luar angkasa tersebut ternyata tidak memenuhi kriteria untuk disebut sebagai suatu planet. Alasannya ada dua yakni pertama massanya terlalu kecil dan kedua tidak memiliki garis orbit sendiri sehingga memotong garis orbit dari planet lain.

Guru harusnya membimbing peserta didiknya dalam memperoleh pengetahuannya. Siswa harus melihat alam semesta secara luas untuk mendapatkan pengetahuan. Pengetahuan yang sesuai dengan kondisi konkrit saat melakukan pengamatan.

Jika siswa melihat kucing berjalan. Apakah boleh guru memaksa mengatakan kucing bisa terbang?
Jelas itu kontradiktif. Terjadi kejolak dalam batin siswa. Kebanyakan siswa tidak tahu alasan mengapa mereka belajar. Ilmu pengetahuan yang mereka pelajari tidak bisa dipahami sebagai suatu fenomena real dan dekat dengan kehidupan manusia.

Berhentilah melabelkan siswa yang tidak pintar secara akademik dengan sebutan bodoh atau tidak pintar. Itu hanya akan merusak mental anak. Dia akan berpikir bahwa dia memang dilahirkan tidak pintar seperti teman-temannya.

Padahal itu semua tidak benar. Mungkin saja dia memang tidak memiliki bakat dalam bidang akademik, bisa saja dia berbakat dalam bidang seni atau olahraga. Biarkan anak-anak berkembang sesuai dengan bakat maupun minatnya masing-masing. Tugas pendidikan, membimbing dan mengarahkan siswa mencapai potensi terbaiknya.

Agen Pendidikan Indonesia belum mampu mensosialisakan makna belajar sesungguhnya. Masyarakat khususnya orang tua menganggap pendidikan hanya untuk membuat siswa menjadi pintar saja. Oritentasi ini yang menjadikan orang tua selalu berlomba-lomba memberikan pelayanan pendidikan tambahan yang cenderung akan membuat anak menjadi jenuh. Anak diminta mengikuti berbagai les seperti les pelajaran tambahan, les privat sepulang sekolah, les piano, les gitar, les komputer dan lain-lain.

Apakah orang tua pernah bertanya kepada anaknya tentang apa yang mereka sukai?

Evaluasi pembelajaran di Indonesia tidak dilakukan dengan tepat. Ujian berstandar nasional harusnya dilaksanakan apabila standar pendidikan di semua daerah di Indonesia sama. Mulai dari sarana dan prasarana hingga kualitas pembelajaran yang diperoleh. Pengandaiannya seperti siswa yang dibentuk menjadi harimau sejak kecil tidak akan pernah sebanding dengan siswa yang dibentuk menjadi katak. Mereka tidak akan pernah mencapai jarak yang sama ketiak lomba lari.

Bapak menteri pendidikan, Nadiem Makarim sudah benar mengambil keputusan dengan menghapuskan ujian berstandar nasional. Menghindari pengeluaran anggaran yang tidak penting dan kesadaran bahwa tidak ada manfaat signifikan. 

Tujuan utama dari ujian sebenarnya adalah mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terkait materi ajar yang sudah dipelajari selama ini. Informasi ini digunakan acuan untuk memberikan treatment kepada siswa guna perbaikan. Jika yang mengerjakan ujian siswa kelas VI untuk jenjang sekolah dasar, siswa kelas IX untuk jenjang SMP, dan siswa kelas XII untuk jenjang SMA. 

Kapan guru dapat memberikan perbaikan pembelajaran agar prestasi belajar siswa meningkat? Mereka akan tamat dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Kebijakan ujian yang dilakukan pada saat siswa menempuh pendidikan di kelas menengah seperti kelas empat, kelas delapan, dan kelas sebelas memang sangat beralasan. Masih ada kesempatan guru untuk melatih kemampuan siswa yang masih kurang dari hasil ujian. Ujian pun diserahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah tanpa mengabaikan prinsip-prinsip yang telah ada. Hanya pihak sekolah yang benar-benar tahu kebutuhan dari sekolah itu sendiri.

Pemerintah tidak boleh menutup mata akan pelayanan pendidikan di daerah pinggiran. Terjadi penyimpangan yang terlalu jauh. Anak-anak di kota saling bersaing di lingkungan yang bersahabat dalam memperoleh pengetahuan. Segala kemewahan memudahkan mereka mengakses pengetahuan secara cepat dan mudah melalui jaringan internet.

Kualitas guru yang tidak merata juga menjadi permasalahan klasik pendidikan di Indonesia. Belum ada formulasi yang  tepat untuk memecahkan masalah ini. Semua anak di Indonesia berhak memperoleh pelayanan yang sama, khusunya di bidang pendidikan.

Guru dengan kompetensi yang baik memang jarang di jumpai di daerah pinggiran. Tidak menutup kemungkinan ada tapi akan langka. Memang lebih efektif dalam memanfaatkan anak daerah untuk memajukan pendidikan di daerah. Hanya sedikit orang yang rela mengabdi dengan cuma-cuma. Semoga kelak ada program inovatif yang dapat menyelesaikan masalah ini.

Para guru dan orang tua harus mulai benar-benar peduli dengan kebutuhan anak. Jangan egois dengan harapan yang kita bentuk ada pada diri anak. Mereka berhak memperoleh apa yang mereka senangi. Belajar juga mendengarkan pendapat anak. Ciptakan komunikasi yang baik demi menunjung tumbuh kembangnya

Mari bersama-sama berbenah untuk menghasilkan generasi emas Indonesia. 
Made Ary Aditia
Made Ary Aditia Seorang pendidik di salah satu sekolah dasar Kab. Gianyar, Bali